Suatu hari lahirlah seorang anak dengan
selamat. Dia tumbuh besar dengan baik oleh kedua orang tuanya. Suatu saat yang
dinanti-nanti telah tiba, si anak sudah cukup besar untuk tinggal di tempat
tersendiri yang sangat jauh dari orang tuanya. Hari-hari dilaluinya dengan
sikap yang santai. Terlalu santainya sampai-sampai nilai yang diperolehnya di
sekolah sangatlah minim untuk syarat mendapatkan pekerjaan.
Sampai
suatu ketika dia menemukan sebuah tayangan yang menurutnya sangat
kekanak-kanakan. Akan tetapi setelah dia tonton tayangan itu lebih lanjut
hingga selesai (karena sudah terlanjur menonton, sayang kalau tidak sampai
selesai), dia baru menyadari betapa bodohnya pemeran utama dalam cerita pada
tayangan tersebut yang mau saja dikelabuhi oleh teman-temannya, yang disebabkan
oleh pengetahuannya sangat-sangat kurang sehingga sangat mudah terpengaruh. Ada
ketidaktahuan tokoh utama yang disukai anak ini, yakni tokoh tersebut tidak
tahu bahwa dia ditaksir oleh cewek yang ia taksir alias tidak tahu kalau mereka
berdua sama-sama suka.
Ketidaktahuan
tersebut dapat menghilangkan sifat terbawa perasaan orang lain karena pada
dasarnya pria bukan manusia yang mudah terbawa perasaan. Dia mengambil
pelajaran dari sini bahwa untuk menjaga perasaan wanita, dia tidak perlu tahu
perasaan si wanita terhadap dirinya karena wanita adalah makhluk yang paling
mudah terbawa perasaan. Jika perasaannya terguncang sedikit saja, maka dia
pasti akan langsung mengekspresikannya dalam bentuk apapun sehingga berbahaya
bila perasaan mereka berdua diketahui oleh masing-masing dari mereka karena
bila waktunya belum tepat akan timbul perasaan yang tak sampai dari wanita
kepada pria yang mengganggu perasaannya.
Pada
dasarnya pria tidak menggunakan perasaan yang berlebih seperti wanita, pria
hanya mengenal tanda-tanda perasaan kepada seorang wanita ketika terjadi
keanehan; “kenapa terasa mengganggu ketika tidak bertemu dengannya” dan ketika
melihatnya rasanya malu untuk menyapanya namun yang anehnya lagi pria itu
ketika berbicara dengan si wanita seperti berbicara dengan wanita lain
(berbicara dengannya dengan tidak melihat wajahnya terus menerus), berbicara
dengan bahasa yang akrab sebagai teman. Tetapi terjadi keanehan kedua yang
cukup menggangguku yakni ketika “dia” (si wanita) berbicara dengan pria itu
saja; untuk menjelaskan suatu hal seperti berita/informasi yang cukup
panjang, dia sering tidak dapat menyusun kata-kata dengan tepat *eh. Pria ini
hanya merasa ada yang aneh saja, kenapa hanya dia, kenapa tidak terjadi pada
wanita lain, padahal banyak sekali wanita yang lebih sholihah dan elok daripada
dirinya.
Hanya ini saja yang dirasakan pria itu,
selanjutnya dia tidak akan mencari tahu lebih lanjut sampai waktunya tepat.
That's right, pria itu aku. So what... jika memang dia jodohku, aku yakin bisa
menikahinya karena jodohku besok adalah hasil dari usahaku sekarang, untuk
meningkatkan kesholehanku dengan menambah pengetahuan, kemampuan membaca,
hafalan al qur’an, bahasa arab serta pengetahuan tentang islam lainnya yang
kubutuhkan untuk syi’ar dakwah ke masyarakat dan semoga dimudahkan Allah dalam
segala urusan termasuk urusan jodoh (maupun rizki) karena jodoh (dan rizki)
tiap insan manusia sudah ditentukan Sang Pencipta dan tertulis di lauhul
mahfudz tergantung kita mau berpartisipasi untuk meraih jannah-Nya dengan
memperjuangkan agama-Nya dan syahid di jalan-Nya atau tidak.
Aku tidak perlu khawatir jika aku sudah
didahului oleh orang lain, karena wanita yang cantik dan baik untukku adalah
wanita yang mudah/paling murah maharnya, yang mudah dinikahi dan yang baik pula akhlaqnya
(memperlihatkan atau memancarkan kesolehahan-nya). *eeeeeeh....!!!!! >_<
"murah maharny"? Redaksi asli hadits nya yang "mudah maharnya" kan ya rif? *eaa ariiif. Hha kau tlah dewasa ternyata,nak. XD
BalasHapusIy sih Dey, ada riwayat hadist yang menyatakan "mudah maharnya" (HR. Ahmad) dan ada pula yang "paling murah maharnya" (HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad). Mungkin cuma karna perbedaan tafsir, sih. Namun maksudnya sama dengan yang "paling ringan maharnya" atw "paling sederhana maharnya", jd gak keluar konteks. Q kurang nambah kata "paling" sebelum kata "murah" atw diganti sama kata "mudah". Thanks komentarny, Dey. Jd slama ini q gak dewasa gtu... -_-''
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus