Jumat, 25 Oktober 2013

Kisah Klasik, Film dan Jodoh



Suatu hari lahirlah seorang anak dengan selamat. Dia tumbuh besar dengan baik oleh kedua orang tuanya. Suatu saat yang dinanti-nanti telah tiba, si anak sudah cukup besar untuk tinggal di tempat tersendiri yang sangat jauh dari orang tuanya. Hari-hari dilaluinya dengan sikap yang santai. Terlalu santainya sampai-sampai nilai yang diperolehnya di sekolah sangatlah minim untuk syarat mendapatkan pekerjaan.

Sampai suatu ketika dia menemukan sebuah tayangan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Akan tetapi setelah dia tonton tayangan itu lebih lanjut hingga selesai (karena sudah terlanjur menonton, sayang kalau tidak sampai selesai), dia baru menyadari betapa bodohnya pemeran utama dalam cerita pada tayangan tersebut yang mau saja dikelabuhi oleh teman-temannya, yang disebabkan oleh pengetahuannya sangat-sangat kurang sehingga sangat mudah terpengaruh. Ada ketidaktahuan tokoh utama yang disukai anak ini, yakni tokoh tersebut tidak tahu bahwa dia ditaksir oleh cewek yang ia taksir alias tidak tahu kalau mereka berdua sama-sama suka.

Ketidaktahuan tersebut dapat menghilangkan sifat terbawa perasaan orang lain karena pada dasarnya pria bukan manusia yang mudah terbawa perasaan. Dia mengambil pelajaran dari sini bahwa untuk menjaga perasaan wanita, dia tidak perlu tahu perasaan si wanita terhadap dirinya karena wanita adalah makhluk yang paling mudah terbawa perasaan. Jika perasaannya terguncang sedikit saja, maka dia pasti akan langsung mengekspresikannya dalam bentuk apapun sehingga berbahaya bila perasaan mereka berdua diketahui oleh masing-masing dari mereka karena bila waktunya belum tepat akan timbul perasaan yang tak sampai dari wanita kepada pria yang mengganggu perasaannya.


Pada dasarnya pria tidak menggunakan perasaan yang berlebih seperti wanita, pria hanya mengenal tanda-tanda perasaan kepada seorang wanita ketika terjadi keanehan; “kenapa terasa mengganggu ketika tidak bertemu dengannya” dan ketika melihatnya rasanya malu untuk menyapanya namun yang anehnya lagi pria itu ketika berbicara dengan si wanita seperti berbicara dengan wanita lain (berbicara dengannya dengan tidak melihat wajahnya terus menerus), berbicara dengan bahasa yang akrab sebagai teman. Tetapi terjadi keanehan kedua yang cukup menggangguku yakni ketika “dia” (si wanita) berbicara dengan pria itu saja; untuk menjelaskan suatu hal seperti berita/informasi yang cukup panjang, dia sering tidak dapat menyusun kata-kata dengan tepat *eh. Pria ini hanya merasa ada yang aneh saja, kenapa hanya dia, kenapa tidak terjadi pada wanita lain, padahal banyak sekali wanita yang lebih sholihah dan elok daripada dirinya.


Hanya ini saja yang dirasakan pria itu, selanjutnya dia tidak akan mencari tahu lebih lanjut sampai waktunya tepat. That's right, pria itu aku. So what... jika memang dia jodohku, aku yakin bisa menikahinya karena jodohku besok adalah hasil dari usahaku sekarang, untuk meningkatkan kesholehanku dengan menambah pengetahuan, kemampuan membaca, hafalan al qur’an, bahasa arab serta pengetahuan tentang islam lainnya yang kubutuhkan untuk syi’ar dakwah ke masyarakat dan semoga dimudahkan Allah dalam segala urusan termasuk urusan jodoh (maupun rizki) karena jodoh (dan rizki) tiap insan manusia sudah ditentukan Sang Pencipta dan tertulis di lauhul mahfudz tergantung kita mau berpartisipasi untuk meraih jannah-Nya dengan memperjuangkan agama-Nya dan syahid di jalan-Nya atau tidak.


Aku tidak perlu khawatir jika aku sudah didahului oleh orang lain, karena wanita yang cantik dan baik untukku adalah wanita yang mudah/paling murah maharnya, yang mudah dinikahi dan yang baik pula akhlaqnya (memperlihatkan atau memancarkan kesolehahan-nya). *eeeeeeh....!!!!! >_<

4 komentar:

  1. "murah maharny"? Redaksi asli hadits nya yang "mudah maharnya" kan ya rif? *eaa ariiif. Hha kau tlah dewasa ternyata,nak. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iy sih Dey, ada riwayat hadist yang menyatakan "mudah maharnya" (HR. Ahmad) dan ada pula yang "paling murah maharnya" (HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad). Mungkin cuma karna perbedaan tafsir, sih. Namun maksudnya sama dengan yang "paling ringan maharnya" atw "paling sederhana maharnya", jd gak keluar konteks. Q kurang nambah kata "paling" sebelum kata "murah" atw diganti sama kata "mudah". Thanks komentarny, Dey. Jd slama ini q gak dewasa gtu... -_-''

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus